Minggu, 19 Mei 2019

Faktor yang Mempengaruhi Fluktuasi Harga Beras

Naik turunnya harga bahan pokok akan berdampak besar pada perekonomian masyarakat menengah kebawah, terutama beras. Beras  yang merupakan sumber makanan pokok di hampir seluruh Indonesia kerap kali mengalami kenaikan atau penurunan yang drastis. Mengapa hal itu terjadi dan apa penyebabnya? Berikut bahasannya. 

Harga Beras

Ketersediaan dan Permintaan
Faktor ini merupakan faktor umum yang terjadi diseluruh lini ekonomi, tak hanya harga beras. Ketersediaan barang dan permintaan yang tidak seimbang menyebabkan perubahan harga yang signifikan. Barang pangan lain seperti daging atau ikan, mungkin pengaruhnya tidak terlalu besar karena ada bahan makanan pengganti, tapi beras merupakan makanan pokok utama saat ini.

Ketika ketersediaan barang meningkat sedangkan permintaan menurun maka otomatis harga akan turun. Begitu pula sebaliknya, ketika permintaan meningkat tapi ketersediaan barang sangat langka harga pasti akan melonjak tajam.

Masalah ini bukan tanpa solusi, penanganan dengan memastikan permintaan dan ketersediaan barang selalu seimbang terus dilakukan pemerintah. namun ada beberapa lain mulai dari hal teknis seperti gagal panen, bencana dan lain sebagainya, hingga faktor-faktor non teknis seperti kebijakan pemerintah dan para mafia pasar.

Keterlambatan Panen
Berbeda dengan masalah gagal panen yang tidak bisa diprediksi akibat serangan hama atau bencana alam dapat menyebabkan kenaikan harga yang drastis. Masalah keterlambatan panen mengakibatkan suplai yang tidak mencukupi sehinga Bulog harus melakukan impor guna menstabilkan harga.

Masalah gagal panen juga sangat rentan, karena dapat mengacaukan ketersediaan pangan. Beras yang seharusnya diambil dari petani, karena gagal panen Bulog harus impor dan membuat harga pasaran relatif naik. Kesalah perhitungan impor dapat membuat kurang atau kelebihan stok beras sehingga perubahan harga akan mungkin terjadi.

Operasi Pasar
Operasi pasar adalah program dari Bulog untuk menstabilkan harga beras di pasar. Hal ini biasa dilakukan ketika ketersedian beras sedang menurun. Guna mencegah harga yang melambung tinggi, Bulog akan menggelontorkan sejumlah besar beras ke pasar untuk memastikan ketersedian beras yang beredar di suatu daerah tetap stabil.

Namun solusi ini bukan tanpa masalah, kerap kali beras yang dikeluarkan oleh Bulog diselundupkan, atau ditimbun oleh pedagang nakal agar mendapat keuntungan pribadi. Jika beras yang digelontorkan oleh Bulog tidak sampai ke masyarakat maka harga pun akan tetap tinggi dan merugikan masyarakat kecil.

Saat ini masalah mafia beras sudah bisa sedikit diredam karena sistem operasi pasar yang sudah tidak satu pintu. Pelakunya yang tertangkap atau yang terbukti melakukan praktek oplos dan penimbunan beras telah diberikan sanksi yang berlaku. Akibatnya beberapa tahun terakhir harga di pasar dapat dikatakan cenderung stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Tidak Adanya Pebagian Raskin
Pada November dan Desember 2014 pemerintah pernah menghentikan beras yang dikhususkan untuk masyarakat miskin (raskin). Karena tidak adanya bantuan raskin dari pemerintah saat itu permintaan beras menjadi melonjak secara signifikan. Sehinga Bulog Harus mengambil stok beras yang seharusnya digunakan untuk operasi pasar.

Kondisi seperti ini mengakibatkan rentannya tali pengaman harga beras. Jika sewaktu-waktu terjadi gagal panen dan ketersediaan beras menurun Bulog tidak dapat mengontrol harga pasar karena tidak memiliki cadangan beras. Impor pun tidak banyak membantu karena harganya yang tinggi dan dapat menurunkan harga beli gabah dari petani.

Kebanyakan masalah harga bahan pokok, terutama beras memenag bukan hanya berdasarkan suplai dan permintaan saja tetapi kebijakan politik. Jika harga sedang tinggi akibat momen tertentu Anda bisa mengakalinya dengan membeli secara online di Blibli.com dengan menggunakan promo yang disedakan harganya pun menjadi lebih murah.


EmoticonEmoticon